Minggu, 16 November 2014

Psikologi, pengetian psikologi Mentalistik, Behavioristik dan Kognifistik



PSIKOLOGI

v  Pengertian Psikologi

Secara Etimologi kata psikologi berasal dari bahasa Yunani kuno psyche dan logos. Kata psyche berarti “jiwa, roh atu sukma”, sedangkan kata logos berarti “ilmu”. jadi, psikologi, secara harfiah berarti “ ilmu jiwa”, atau ilmu yang objek kajiannya adalah jiwa. Dulu ketika psikologi masih berada atau merupakan bagian dari ilmu filsafat, definisi bahwa psikologi adalah ilmu yang mengkaji jiwa masih bisa di pertahankan. dalam kepustakaan kita kpada tahun lima puluhan pun nama ilmu jiwa lazim di gunakan sebagai pdanan kata psikologi. Namun, kini istilah ilmu jiwa tidak di gunakan lagi karena bidang ilmu ini memang tidak meneliti jiwa, atau roh atau sukma, sehingga istilah itu kurang tepat.

Dalam perkembangan lebih lanjut, psikologi lebih membahas atau mengkaji sisi-sisi manusia dari segi yang bisa di amati. Mengapa ? Karena jiwa itu bersifat abstrak, sehingga tidak dapt di amti secara empiris, padahal objek kajian setiap ilmu harus dapat di observasi secara indrawi. Dalam hal ini “jiwa” atau “keadan jiwa” hanya bisa di amati melalui gejala-gejalanya seperti sedih akan berlaku murung, dan orang yang gembira tampak dari gerak-geriknya yang riang atau dari wajahnya yang berbinar-binar. Meskipun demnikian, kita juga sering mendapat kesulitan untuk mengetahui keadaan jiwa seseorang dengan hanya melihattingkah lakunya saja. tidak jarang kita menjumpai seseorang yang sebenarnya jengkel atau marah tetapi tetap tenang atau malah tertawa.

walaupun kemungkinan gerak-gerik lahir seseorang belum tentu menggambarkn keadaan jiwa yang sebenarnya, namun, secara tradisional, psikologi lazim di artikan sebagai satu bidang ilmu yang mencoba mempelajari prilaku manusia. caranya adalah dengan mengkaji hakikat rangsangan, reaksi terhadap rangsangan itu, dan mengkaji hakikat proses-proses akal yang berlaku sebelum reaksi itu terjadi. Para ahli psikolog belakangan ini juga cenderung untuk menganggap psikologi sebagai suatu ilmu yang mengkaji proses “akal manusia” dan segala manifestasinya yang mengatur prilaku manusia itu. tujuan pengkajian akal ini adalah untuk menjelaskan, memprediksikan, dan mengontrol prilaku manusia.

Dalam perkembangannya, psikologi telah terbagi menjadi beberapa aliran sesuai dengan paham filsafat yang di anut. karena itulah di kenal adanya psikologi yang mentalistik, behavioristik, dan kognitifistik.

Ø  Psikologi Mentalistik
melahirkan aliran yang di sebut psikologi kesadaran. tujuan utamanya adalah mencoba mengkaji proses-proses akal manusia dengan cara mengintrospeksi atau mengkaji diri. Oleh karena itu, psikologi kesadran lazim juga di sebut psikologi introspeksionisme. Psikologi ini merupakan suatu proses akal dengan cara melihat ke dalam diri sendiri setelah suatu rangsangan terjadi.
Ø  Psikologi Behavioristik
melahirkan aliran yang di sebut Psikologi prilaku. Tujuan utamanya adalah mencoba mengkaji prilaku manusia yang berupa reaksi apabila suatu rangsangan terjadi, dan selanjutnya bagaimana mengawasi dan mengontrol prilaku itu. Para pakar psikologi Behavioristik ini tidak berminat mengkaji proses-proses akal yang membangkitkan prilaku tersebut karena proses-proses akal ini tidak dapat di amati atau di observasi secara langsung. Jadi, para pakar psikologi prilaku ini tidak mengkaji ide-ide, pengertian, kemauan, keinginan, maksud, pengharapan, dan segala mekanisme fisiologi. yang di kaji hanyalah peristiwa-peristiwa yang dapat di amati, yang nyata dan konkret, yaitu kelakian atau tingkah laku manusia.
Ø  Psikologi Kognifistik
Psikologi ini lazim di sebut psikologi Kognitif yang mana mancoba mengkaji proses-proses kognitif manusia secara ilmiah. Yang di maksud proses kognitif adalah proses-proses akal (pikiran, berpikir) manusia yang bertanggung jawab mengatur pengalaman dan prilaku manusia. Hal utama yang di kaji adalah : Bagaimana cara manusia memperoleh, menyimpan, mengelurkan, dan menggunakan pengetahuannya, termasuk perkembangan dan penggunaan pengetahuan bahasa.
Adapun pebedaannya dengan psikologi kesadaran (yang bersandar pada mentalisme proses-proses akal itu berlangsung setelah terjadinya rangsangan.
Sedangkan menurut Psikologi Kognitif (yang merupakan mentalisme modern) Proses-proses akal itu dapat terjdi karena adanya kekuatan dari dalam, tanpa adanya rangsangan terlebih dahulu. perilaku yang muncul sebagai hasil proses akal seperti ini di sebut perilaku atau tindakan bertujuan sebagai hasil kreativitas organism manusia itu sendiri.  




Tidak ada komentar:

Posting Komentar