Jumat, 14 November 2014

sosiologi pendidikan tentang Realita Kehidupan beragama dalam Masyarakat


Realita Kehidupan beragama dalam Masyarakat
          Agama merupakan sistem keyakinan atau kepercayaan manusia terhadap sesuatu zat yang dianggap Tuhan. Secara konseptual, asal ada orang percaya kepada zat Tuhan, berarti dia sudah beragama. Siapapun Tuhannya, itu adalah hak setiap orang sesuai latar belakang pengetahuannya masing-masing.
            Hubungan manusia dengan Zat yang dianggap Tuhan memberikan dorongan kepada manusia menemukan gagasan keagamaan, kemudian mewujudkannya dalam berbagai bentuk kepercayaan, mitos, dan tradisi peribadatan. Jadi, manusia lah yang membuat agama itu hidup. Aktifitas manusia dalam masyarakat, itulah yang menjadi indikator adanya agama.
            Agama sebagai sistem gagasan atau ideologi yang bersumber dari kepercayaan dan pengetahuan, melahirkan norma dan nilai-nilai ajaran agama. Ideologi sistem sebagai sistem gagasan, terlepas darimana gagasan itu datang, dari wahyu Allah SWT, atau dari manusia biasa, hakikatnya bersifat kognitif. Manifestasi dari adanya kepercayaan terdapat Zat yang dianggap Tuhan, berdasarkan pengetahuan yang telah diterimanya dari berbagai sumber, melahirkan norma dan nilai-nilai ajaran agama dalam kehidupan masyarakat. Norma pengabdian sebagai bukti persembahan manusia kepada Tuhannya, secara religi diatur dalam kitab-kitab suci agama yang bisa dijadikan pedoman. Umat beragama yang taat dan patuh melaksanakan ibadah sesuai dengan norma yang telah ditentukan, hakikatnya terdorong secara ideal untuk berharap memperoleh nilai-nilai spiritual, seperti pahala, berkah, rahmat dan keselamatan hidup di dunia, serta kebahagiaan di hari akhirat.
            Adapun penelitian tentang hidup keagamaan adalah penelitian tentang praktik-praktik ajaran agama yang dilakukan oleh manusia secara individual dan kolektif. Berdasarka batasan tersebut, penelitian hidup keagamaan meliputi hal-hal berikut:
1.      Perilaku individu dan hubungannya dengan masyarakatnya yang didasarkan atas agama yang dianutnya.
2.      Perilaku masyarakat atau suatu komunitas, baik perilaku politik, budaya maupun yang lainnya yang mendefinisikan dirinya sebagai penganut agama.
3.      Ajaran agama yang memebentuk pranata sosial, corak perilaku, dan budaya masyarakat beragama (Juhaya S. Praja, 1997:32)
Dalam dataran sosiologis, agama dipahami sebagai perilaku yang konkret. Adapun kategori tipe-tipe perilaku keagamaan Juhaya S. Praja memodifikasi tipe-tipe tersebut yaitu:
1.      Pernyataan tentang supranatural, seperti sembahyang dan mengusir roh jahat
2.      Musik, tarian-tarian dan lagu-lagu.
3.      Latihan psikologi seperti Riyadhah
4.      Pernytaaan kepada orang lain sebagai wakil Tuhan
5.      Membaca kitab suci
6.      Simulasi
7.      Mana (menyentuh benda-benda yang mempunyai daya sakral)
8.      Menghindarkan diri dari segala sesuatu untuk menjaga terjadinya suatu kegiatan yang tidak diinginkan atau peristiwa yang tidak dikehendaki.
9.      Mengadakan pesta dengan menghidangkan makanan-makanan yang sakral
10.   Pengorbanan seperti berkorban, persembahan dan sumbangan dalam bentuk uang.
11.   Jama’ah, seperti prosesi, rapat-rapat, dan majlis ta’lim
12.   Inspirasi seperti wahyu ektase mistik.
13.   Simbolisme, yakni penggunaan objek untuk simbolik
14.   Memperluas dan memodifikasi kode hukum agama dalam kaitannya dengan kategori kelima.
15.   Penerapan nilai-nilai keagamaan dalam konteks non religius.
Berbagai kepercayaan dan peribadatan agama sudah menjadi ciri universal masyarakat manusia. Namun, manusia tidak hanya berdo’a, menyembah (Tuhan) dan berkorban, mereka juga memikirkan secara mendalam peribadatan-peribadatan mereka sendiri, dan dengan demikian berkembanglah kajian-kajian yang kita sebut teologi, filsafat agama, dan perbandingan agama.

 
            Ilmu teologi mengkaji tentang kepercayaan terhadap adanya Tuhan dan berusaha melaksanakan berbagai implikasi dari keyakinan terhadap kehidupan manusia, berbeda dengan cara-cara lain, dimana pengalaman manusia membantu kita memahami hakikat Tuhan. Selain itu, ahli teologi secara karakteristik merupakan pemikir dalam tradisi keagamaan, misalnya islam, kristen, hindu, budha dan sebagainya, yang pertama-tama menaruh perhatian terhadap berbagai kebenaran sesuai dengan keyakinan dalam tradisi tertentu. Yang pada hakikatnya, semua agama mengajarkan kasih sayang, mendambakan keadilan dan keteraturan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar