Realita Kehidupan beragama dalam Masyarakat
Agama merupakan sistem keyakinan atau kepercayaan manusia terhadap
sesuatu zat yang dianggap Tuhan. Secara konseptual, asal ada orang percaya
kepada zat Tuhan, berarti dia sudah beragama. Siapapun Tuhannya, itu adalah hak
setiap orang sesuai latar belakang pengetahuannya masing-masing.
Hubungan manusia
dengan Zat yang dianggap Tuhan memberikan dorongan kepada manusia menemukan
gagasan keagamaan, kemudian mewujudkannya dalam berbagai bentuk kepercayaan,
mitos, dan tradisi peribadatan. Jadi, manusia lah yang membuat agama itu hidup.
Aktifitas manusia dalam masyarakat, itulah yang menjadi indikator adanya agama.
Agama sebagai
sistem gagasan atau ideologi yang bersumber dari kepercayaan dan pengetahuan,
melahirkan norma dan nilai-nilai ajaran agama. Ideologi sistem sebagai sistem
gagasan, terlepas darimana gagasan itu datang, dari wahyu Allah SWT, atau dari
manusia biasa, hakikatnya bersifat kognitif. Manifestasi dari adanya
kepercayaan terdapat Zat yang dianggap Tuhan, berdasarkan pengetahuan yang
telah diterimanya dari berbagai sumber, melahirkan norma dan nilai-nilai ajaran
agama dalam kehidupan masyarakat. Norma pengabdian sebagai bukti persembahan
manusia kepada Tuhannya, secara religi diatur dalam kitab-kitab suci agama yang
bisa dijadikan pedoman. Umat beragama yang taat dan patuh melaksanakan ibadah
sesuai dengan norma yang telah ditentukan, hakikatnya terdorong secara ideal
untuk berharap memperoleh nilai-nilai spiritual, seperti pahala, berkah, rahmat
dan keselamatan hidup di dunia, serta kebahagiaan di hari akhirat.
Adapun penelitian
tentang hidup keagamaan adalah penelitian tentang praktik-praktik ajaran agama
yang dilakukan oleh manusia secara individual dan kolektif. Berdasarka batasan
tersebut, penelitian hidup keagamaan meliputi hal-hal berikut:
1.
Perilaku individu dan hubungannya dengan masyarakatnya yang
didasarkan atas agama yang dianutnya.
2.
Perilaku masyarakat atau suatu komunitas, baik perilaku politik,
budaya maupun yang lainnya yang mendefinisikan dirinya sebagai penganut agama.
3.
Ajaran agama yang memebentuk pranata sosial, corak perilaku, dan
budaya masyarakat beragama (Juhaya S. Praja, 1997:32)
Dalam dataran sosiologis, agama dipahami sebagai perilaku yang
konkret. Adapun kategori tipe-tipe perilaku keagamaan Juhaya S. Praja
memodifikasi tipe-tipe tersebut yaitu:
1.
Pernyataan tentang supranatural, seperti sembahyang dan mengusir
roh jahat
2.
Musik, tarian-tarian dan lagu-lagu.
3.
Latihan psikologi seperti Riyadhah
4.
Pernytaaan kepada orang lain sebagai wakil Tuhan
5.
Membaca kitab suci
6.
Simulasi
7.
Mana (menyentuh benda-benda yang mempunyai daya sakral)
8.
Menghindarkan diri dari segala sesuatu untuk menjaga terjadinya
suatu kegiatan yang tidak diinginkan atau peristiwa yang tidak dikehendaki.
9.
Mengadakan pesta dengan menghidangkan makanan-makanan yang sakral
10. Pengorbanan seperti berkorban, persembahan dan
sumbangan dalam bentuk uang.
11. Jama’ah, seperti prosesi, rapat-rapat, dan
majlis ta’lim
12. Inspirasi seperti wahyu ektase mistik.
13. Simbolisme, yakni penggunaan objek untuk
simbolik
14. Memperluas dan memodifikasi kode hukum agama
dalam kaitannya dengan kategori kelima.
15. Penerapan nilai-nilai keagamaan dalam konteks
non religius.
Berbagai kepercayaan dan peribadatan agama sudah menjadi ciri
universal masyarakat manusia. Namun, manusia tidak hanya berdo’a, menyembah
(Tuhan) dan berkorban, mereka juga memikirkan secara mendalam peribadatan-peribadatan
mereka sendiri, dan dengan demikian berkembanglah kajian-kajian yang kita sebut
teologi, filsafat agama, dan perbandingan agama.
Ilmu teologi
mengkaji tentang kepercayaan terhadap adanya Tuhan dan berusaha melaksanakan
berbagai implikasi dari keyakinan terhadap kehidupan manusia, berbeda dengan
cara-cara lain, dimana pengalaman manusia membantu kita memahami hakikat Tuhan.
Selain itu, ahli teologi secara karakteristik merupakan pemikir dalam tradisi
keagamaan, misalnya islam, kristen, hindu, budha dan sebagainya, yang
pertama-tama menaruh perhatian terhadap berbagai kebenaran sesuai dengan
keyakinan dalam tradisi tertentu. Yang pada hakikatnya, semua agama mengajarkan
kasih sayang, mendambakan keadilan dan keteraturan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar